Oleh Meinart L. A.
“Pak Ara lapar, Pak… ” ujar Ara kepada Ayahnya. “Iya Nak, sabar ya, nanti Bapak bakal cari makanan buat kamu.” Wajah Pak Kardi kusut. Guratan wajahnya tampak jelas seolah menggambarkan penderitaan yang selalu dialami. Matanya yang sayu menatap sang anak, satu-satunya keluarga yang dimiliki.
Pak Kardi tidak tega melihat Ara mememelas kelaparan. Mereka sudah dua hari luntang-lantung tak jelas ke mana. Uang pun tak punya. Dua hari yang lalu, gubuk tua Pak Kardi yang berada di pinggiran kota disita rentenir. Penyebabnya, Pak Kardi hanya tidak bisa membayar utang sebesar Rp 300 ribu.
Sebenamya, Pak Kardi hanya meminjam 100 ribu. Uang itu digunakan untuk mengobati sakit asmanya yang pada waktu itu lagi kambuh. Namun, bunganya sangat tinggi. Hanya dalam beberapa bulan, utangnya membengkak menjadi Rp 300 ribu. Akhirnya, Pak kardi yang hanya seorang pemulung tidak mampu membayar utangnya. … continue reading this entry.
